HANYA DENGAN BERZIKIR KEPADA ALLAH,HATI MENJADI TENANG
Sekapur Sirih Tentang Meditasi Suluk Sunan

A. PENDAHULUAN
Setiap manusia memiliki dua dimensi yang sangat berharga: dimensi jasmani dan rohani. Dengan dua sayap dimensi tersebut manusia dapat meninggikan dan melejitkan citra dirinya ke suatu maqam spiritual yang tak terbatas dimana manusia sampai pada maqam yang paling dekat dengan Alah Azza wa Jalla, yaitu maqam yang meminjam istilah al Qur’an Qaba Qaisan au Adna (sedekat dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi). Bahkan malaikat semulia Jibril andaikan memaksa untuk melewati maqam tersebut niscaya ia akan “terbakar”.

Namun sebaliknya, ketika manusia hanya memuaskan dimensi jasmaninya dimana hidupnya hanya larut dalam makan-minum, tidur-istirahat dan mengumbar hawa nafsu maka—menurut Al Qur’an—derajatnya lebih hina daripada binatang, dan semakin jauh lagi lebih tak berharga daripada benda mati seperti batu. Islam merupakan ajaran yang sempurna. Ia tidak hanya memperhatikan aspek spiritual saja dan mengabaikan tuntunan jasmani. Islam ingin mencetak manusia yang sempurna melalui pembangunan jiwa yang bertitik tolak dari keseimbangan aspek jasmani dan rohani, aspek lahiriah dan batiniah, aspek duniawi dan ukhrawi.

Berangkat dari dasar pemikiran di atas dan setelah melalui diskusi maraton dengan teman-teman, para aktivis dan tokoh-tokoh Islam serta melihat fenoma kemiskinan spiritual yang dirasakan oleh banyak lapisan masyarakat Islam, kami akhirnya membentuk Meditasi Suluk Sunan (MSS) yang berpusat di Kota Wali Cirebon, Jabar. MSS tidak berpikir untuk mengorbitkan “manusia malaikat” yang selalu merasa ada di langit dan lupa turun ke bumi. Atau manusia yang setelah melalui tahap-tahap spiritual, menganggap dirinya suci dan sok suci lalu melihat orang lain hina bak binatang yang tak perlu digubris dan mendapatkan kasih sayang serta penghormatan. Atau manusia yang hanya sibuk berzikir dan tidak memiliki kepekaan sosial, misalnya hanya duduk bersila di masjid/musola sambil terus berzikir dan melupakan tanggung jawabnya sebagai suami/ayah yang harus menafkahi keluarga. Atau manusia yang tergila-gila mempraktekkan wirid namun tidak pernah memahami falsafah dan rasionalitas zikir, bahkan ia menganggap tafakur dan zikir itu tidak pernah bertemu. Tidak demikian tujuan kami. Tidak demikian gerakan spiritual kami Namun MSS dalam perjalanannya berusaha dan bertujuan membumikan insan kamil (manusia sempurna). Insan kamil adalah manusia ideal yang berhasil menyeimbangkan secara elegan dan sempurna aspek Ilahi dan hayawani yang ada dalam dirinya.

Contoh kongkrit insan kamil yang akan selalu menjadi rujukan MSS adalah manifestasi sempurna dari cahaya Allah di muka bumi, yaitu Nur Muhammad saw. Pendekatan yang dilakukan oleh MTS terbilang spektakular, universal, rasional dan mungkin bagi banyak kalangan dianggap unik. Spektakuler karena dalam prakteknya kami akan mengusung harmonisasi aspek spiritual dan intelektual atau aspek zikir dan fikir (tafakur). Gerakan spiritual kami berangkat dari keyakinan bahwa Al Qur’an, Burhan (argumentasi/aspek penalaran) dan `Irfan (aspek mistik/makrifatullah) satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Kami akan mencoba membuktikan bahwa aspek `Irfan yang benar atau dalam istilah banyak kalangan disebut tasawuf tidak pernah mengebiri akal, apalagi menganggap akal sebagai musuh abadi `irfan atau tasawuf. Sebagaimana kami meyakini bahwa maqam spiritual yang telah dicapai oleh Nabi Besar Muhammad saw bukanlah monopoli yang dipaksakan oleh tangan besi Tuhan.

B. PERMASALAHAN
Pendekatan dakwah dengan menggunakan metode zikir dan tarekat sudah ada dimana-mana dengan pelbagai bentuknya. Namun permasalahannya adalah bahwa banyak kalangan menilai bahwa metode zikir atau tarekat hanya cocok untuk kalangan tertentu dan tidak untuk semua orang. Sehingga kemudian gerakan zikir dan tarekat terkesan eksklusif bagi lapisan masyarakat tertentu saja.

Misalnya, bila dilihat dari usia peserta zikir atau tarekat maka kebanyakan mereka yang ikut berusia lanjut. Jarang sekali kita menyaksikan gerakan zikir yang justru dimotori oleh anak-anak muda. Padahal kebutuhan akan zikir adalah kebutuhan bersama manusia, baik tua maupun muda. Bahkan sejatinya, penanaman nilai-nilai zikir terhadap anak muda jauh lebih efektif ketimbang mereka yang berusia senja.

Permasalahan fundamental lainnya adalah banyak anggapan/persepsi yang keliru tentang kriteria seorang mursyid (guru spiritual), zikir dan tarekat/tasawuf itu sendiri. Misalnya, sebagian menilai bahwa pendalaman tarekat identik dengan meninggalkan kenikmatan materi (dunia). Sebagian lagi menganggap bahwa zikir dan terjun ke tasawuf sama dengan pelarian (tobat) dari masa lalu yang gelap-gulita. Sebagian orang memahami bahwa Islam itu suatu jalan dan tarekat/tasawuf adalah jalan yang lain dsb.




Tampilan Versi Cetak Share on Facebook

Informasi Spiritual Mentor

mentor