HANYA DENGAN BERZIKIR KEPADA ALLAH,HATI MENJADI TENANG





Tiap tahun gema takbir bekumandang. Bersahut-sahutan dari satu majid ke masjid lain; antara satu musala dan musala lainnya. Allahu Akbar. Allah Akbar. Lailaha illallah Allahu Akbar. Allahu Akbar walillahil hamd. Semua mengagungkan Allah Azza wa Jalla. Semua berikrar bahwa selain-Nya kecil dan hina serta lemah. Jagad raya hanyut dalam tasbih dan tahmid bersama. Dedaunan, hewan, gemercik air, gemuruh ombak, deru halilintar dan bahkan bebatuan pun melantunkan takbir dan tasbih cinta, tapi telinga zahir kita tidak mendengarnya.

Ya, idul fitri tiap tahun datang dan pergi. Lalu apa arti idul fitri bagi kita?
Ada beberapa kategori dalam memaknai idul fitri:

1- Formatif (tradisi)

Ada sebagian orang yg memaknai idul fitri sebatas tradisi tahunan dan ritual keagamaan yg ditandai dgn takbiran keliling, pembunyian petasan, melekan semalam suntuk, hanyut dalam suasana eforia pasca puasa 1 bln, saling berbagi ucapan selamat lebaran via sms, wa, fb, bb, twiter dll. Dan puncak tradisi ini disakralkan dgn salat id dan dipercantik dgn acara halal bi halal dan ditutup dgn puasa pasca lebaran serta ketupat lebaran. Boleh jadi sebagian mrk yg ikut meramaikan dan menyemarakkan lebaran tdk pernah puasa atau puasa penuh tp tdk paham apa penting dan hakikat puasa. Inilah yg dimaksud oleh Imam Ghazali dgn puasa orang-orang awam.

2-Konsumtif

Ada sebagian orang yg justru berat badannya bertambah hebat pasca puasa berakhir. Belanja rumahtangganya membengkak dibandingkan bulan lainnya. Menu yg disuguhkan beraneka rasa dan warna. Puasa yg mestinya membuat kita inget kelaparan dan kehausan saudara-saudara yg berada dlm kesulitan ekonomi justru membuat sebagian orang semakin "rakus" dan nafsu makannya "menggila". Puasa justru membuat sebagian orang semakin pelit dan berpikir egois.

3-Destruktif

Ada sebagian anak-anak remaja dan dewasa ( tua-tua keladi) yg justru volume maksiat dan dosanya meningkat dan berkembang pesat selama bulan Ramadhan. Alih-alih berpuasa dan parkir dari dosa, nafsu ammarah bissu' mereka justru semakin mengganas. Bahkan mereka terang-terangan merokok dan makan-minum di depan publik. Mereka yg tidak menghormati bulan puasa tentu tdk akn menghargai idul fitri, sehingga mereka tega melakukan dosa besar saat lebaran, spt merampok, pesta miras dan narkoba, membakar serta berbuat onar di muka bumi. Merekalah orang-orang yg mengotori jiwanya dan merusak moment idul fitri dgn serangkain kejahatan dan kezaliman.

4-Edukatif

Ramadhan bagi sebagian kalangan bak sekolah yg mengesankan dan menyenangkan. Puasa melalui kegiatan shalat malam, tadarusan, ihya lailatul qadar, buka bersama, tausiah, zakat dsb benar-benar mengedukasi manusia dalam kategori ini, sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi yang tercerahkan spiritualnya dan insan-insan "malaikat" yg agung budinya. Puasa melahirkan sufi-sufi dan urafa yg mengalami pengalaman personal spiritual yg menggagumkan. Para sufi individualistik ini bak penyerang (striker dlm pertandingan bola) yg tdk pernah berpikir mengoper bola ke temannya, meskipun temannya tsb tdk ada yg mengawal alias sendirian. Striker oportunis ini hanya mau gol tercipta ats namanya, bkn ats assist-nya.
Ya, ada sebagian orang berpikir, yg penting saya baik; yg penting saya puasa; pokoknya saya yg dapet mlm seribu bulan, ngak peduli bangsanya kacau; ngak mau tahu masyarakatnya rusak. Org yg baik ini tdk terpikir utk memberikan sumbangsih apa demi kebaikan dan kemakmuran orang-orang di sekitarnya.

5-Transformatif

Sedikit di antara byk orang yg mencapai level transformasi diri di hari raya idul fitri. Mrk yg sampai pada tahap ini adalah orang-orang yg tlh melakukan safar Ilahi, utamanya di bulan Ramadhan. Kalo di luar Ramadhan mereka mengkhatamkan beberapa kali Alquran selama 1 bulan, tp selama Ramadhan mereka biasa khatam berpuluh-puluh kali. Seorang arif selama Ramadhan sepanjang hidupnya terbiasa tdk tidur malam. Ia selalu menghabiskan waktu mlm utk ibadah. Bedanya auliya dan urafa pada jenjang ini dengan jenjang sebelumnya ( edukatif), di jenjang ini meskipun mrk melakukan perjalanan rohani setinggi mungkin menuju Sang Mahacinta, namun mereka tetap peduli terhadap sesama dan senantiasa memikirkan bagaimana mentransformasi masyarakat dan bangsanya. Dgn kata lain, mereka berhasil melangit atau "menginjak" langit tp mreka tdk pernah lupa membumi atau menginjak bumi ( turun gunung). Mereka asyik-masyuk dgn al Haqq tapi mrk tetap peduli dgn al khalq ( makhluk). Mereka adalah para mujahid yg berhasil mengendalikan tali kekang kuda liar nafsu ammarah mereka dan jiwa mereka telah menjadi nafs muthmainnah tp mereka sekaligus pejuang-pejuang sosial dan menjadi agen-agen perubahan di manapun mrk berada. Bagi mrk, apa artinya kesalehan individual bila tdk dijadikan energi utk menciptakan kesalehan sosial. Bagi mrk, lebaran bkn hanya ditandai dgn baju baru dan pemukulan bedug tp lebih daripada itu, id berarti kembali ke asal; id bukan titik akhir, id justru poin permulaan, an nihayah hiya al ruju' ilal bidayah ( titik akhir justru kembali pada titik awal). Idul fitri mrk maknai sebagai semangat baru dan energi terbarukan untuk menciptakan perubahan dari lingkungan kecil ( rumah tangga) sampai lingkungan besar ( masyarakat), bangsa dan negara.

Id sejatinya sebuah momentum untuk melahirkan tekad mengubah rumah kita dan bangsa kita dari yg hina menjadi mulia, dari yg jahil menjadi berilmu, dari yg bergantung menjadi berdikari, dari yg malas menjadi yg krearif, dari yg represif menjadi yg arif, dari yg egois menjadi humanis-sosialis, dari yg ambisius menjadi religius, dan dari yg membesarkan dan menyembah materi dan ekonomi menjadi hanya kepada-Mu kami menyembah dan wa iyyaka nasta'in.

Minal Aizin wal Faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

(Syekh Muhammad Alcaff, Pengasuh Meditasi Suluk Sunan)




Informasi Spiritual Mentor

mentor