HANYA DENGAN BERZIKIR KEPADA ALLAH,HATI MENJADI TENANG



Tiap tahun gema takbir bekumandang. Bersahut-sahutan dari satu majid ke masjid lain; antara satu musala dan musala lainnya. Allahu Akbar. Allah Akbar. Lailaha illallah Allahu Akbar. Allahu Akbar walillahil hamd. Semua mengagungkan Allah Azza wa Jalla. Semua berikrar bahwa selain-Nya kecil dan hina serta lemah. Jagad raya hanyut dalam tasbih dan tahmid bersama. Dedaunan, hewan, gemercik air, gemuruh ombak, deru halilintar dan bahkan bebatuan pun melantunkan takbir dan tasbih cinta, tapi telinga zahir kita tidak mendengarnya.
Ya, idul fitri tiap tahun datang dan pergi. Lalu apa arti idul fitri bagi kita?
Ada beberapa klasifikasi dalam memaknai idul fitri:


Fakta menunjukkan bahwa betapa banyak orang-orang yang berpuasa namun perilaku dan tutur katanya tidak mencerminkan seorang yang berpuasa. Saya juga merasa bahwa puasa yang selama ini saya jalankan terasa monoton, kurang greget dan pokoknya kurang “hidup”. Dan saya melihat bahwa kaum ‘arif atau para sufi adalah benar-benar orang yang hidup. Bahkan sejatinya hanya mereka yang lebih berhasil memaknai kehidupan dan mendapatkan hayatan toyyibah (kehidupan yang bahagia), seperti yang ditegaskan Al-Qur’an. Sebab, mereka bukan hanya menyembah Allah di kawasan pinggiran dan kumuh, tapi mereka menyembahnya berdasarkan keyakinan (haqqul yaqin). Karena itu, saya susun buku ini dalam rangka menghidupkan puasa yang selama ini kita jalani hanya sebatas ritual dan aktifitas tahunan tanpa menjanjikan perubahan, baik transformasi individual maupun transformasi sosial.

Ya, kita masih terpenjara oleh diri kita sendiri. Madrasah Ramadhan mestinya membebaskan dan memerdekakan kita. Alih-alih pasca Ramadhan kita menjadi insan yang merdeka, tapi kita justru semakin buas dan beringas. Ramadhan datang dan tidak memberikan kesan dan pengaruh yang berarti bagi kita. Silih berganti Ramadhan datang tapi kita masih menjadi manusia yang itu-itu juga. Tidak berubah dan tidak lebih baik. Mengapa demikian? Sebabnya, karena puasa kita tidak bertujuan. Ketakwaan yang merupakan buah puasa gagal kita petik dan kita dapatkan.

Buku "Puasanya Orang-Orang Pilihan" saya hadirkan supaya kita mampu memetik buah takwa dengan mudah.  Dengan meneladani gaya hidup khawas dan orang-orang pilihan Tuhan dari ‘urafa dan auliya, kita dapat merasakan pengalaman baru dalam berpuasa. Para sufi menawarkan hakikat puasa yang diinginkan oleh Allah Swt. Dan bila kita mencontoh  tuntunan dan cara mereka dalam berpuasa niscaya kita akan sampai pada hakikat puasa yang bukan hanya menahan lapar dan dahaga tapi juga menjaga hati dan pikiran dari meletakkan dan memikirkan segala sesuatu selain Allah Swt.



Wahai sahabat suluk, setelah taubat, Anda harus melakukan apa yang disebut dengan musyarathah, muraqabah dan muhasabah. Pada awal Subuh, hendaklah Anda melakukan musyarathah1 dengan dirimu sendiri. Musyarathah adalah mitra atau sahabat yang paling mulia dan paling berharga dan merupakan modal yang luar biasa. Musyarathah merupakan modal yang paling berharga dan selama sehari sampai waktu tidur, lakukanlah muraqabah (kewaspadaan) secara sempurna dan saat tidur lakukanlah muhasabah (audit internal) secara sempurna dari seluruh apa yang pernah dilakukan; selama masa ini dari waktumu, dari kekuatan-kekuatan lahir dan batin dan dari pelbagai kenikmatan Ilahi yang engkau gunakan atau engkau abaikan. Semua ini telah dijelaskan dengan indah oleh ulama-ulama akhlak dan telah mereka tulis. Dan perincian hal itu terdapat dalam kitab-kitab akhlak dan sangat bagus apa yang mereka tulis. Tetapi saya hanya mengisyaratkan kepada masalah yang penting dan berpengaruh berkaitan dengan hal ini.




Taubat yang harus dilakukan oleh orang awam adalah sebagaimana disebutkan oleh Ali bin Abi Thalib saat menjelaskan tentang makna istighfar, dimana ia memiliki enam rukun: pertama, penyesalan. Penyesalan ini merupakan solusi dari banyak masalah, terutama sebagai ganti daripada penyesalan saat kematian dan setelahnya yang tidak dapat dibayangkan bagaimana penyesalan yang bakal diterima dan dihadapi oleh orang yang tidak bertaubat. Sebab, di dunia ini manusia tidak akan pernah mampu membayangkan musibah-musibah ini; bagaimana kegembiraan-kegembiraan, keindahan-keindahan dan cahaya-cahaya serta kekuasaan-kekuasaan yang kemudian diganti dengan kesengsaraan-kesengsaraan, kesulitan-kesulitan, kegelapan-kegelapan dan amarah-amarah yang bakal diterimanya, sehingga ia tidak akan pernah mampu mencapai penyesalan derajat ukhrawi yang bisa dibayangkannya di dunia ini!

SULUK SUNAN

HINDARI BANYAK MAKAN

Allah Swt berfirman: “Makan dan minumlah dan jangan israf (berlebihan). Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf.” (QS. Al A’raf: 32)

Ketahuilah wahai sahabat pejalan spiritual, tak syak lagi bahwa banyak makan mematikan hati dan membuat jiwa membangkang, dan ketahuilah bahwa rasa lapar itu merupakan karakter orang mukmin yang paling tinggi.

Sayidina ash Shadiq r.a. berkata: “Perut yang kenyang akan mudah membangkang/bermaksiat dan sebaik-baik keadaan seorang hamba saat ia berhadapan dengan Allah adalah ketika perutnya kosong dari makanan, dan sebaliknya seburuk-buruk keadaan seseorang hamba saat ia berhadapan dengan Allah adalah ketika perutnya kenyang.”

 


Informasi Spiritual Mentor

mentor